Suatu ketika, di sebuah hape, semua angka yang ada bercerita tentang kelebihan
>masing2...
>
>Si 0 bilang kalo dia itu angka misterius, angka paling awal. Selain itu dia juga
>bangga karena walaupun angka itu tidak ada habisnya, tetapi dialah pangkalnya.
>
>Si 1 bilang kalo dialah angka paling utama, bahwa dialah angka juara, bahwa
>dialah lambang seorang pemenang. Jadi dialah yang terhebat.
>
>Si 2 bilang kalo dia adalah angka esensial di bumi, sebab dialah lambang
>keseimbangan dan lambang pembagi yang ideal secara mutlak.
>
>Si 3 bilang kalo dia lebih hebat dari angka 2 dalam hal membagi secara ideal,
>dia membagi antara yang mutlak dan tidak pasti.
>
>Si 4 dilang kalo dia lambang IP yang sempurna, angka yang bermakna kematian di
>kebudayaan Cina, menunjukkan kestabilan.
>
>Si 6 bilang kalo dia menyimpan keindahan struktur salju dan kristal, misterius,
>lalu dia juga bilang kalo dia itu angka paling bersejarah.
>
>Si 7 bilang kalo dia itu angka keberuntungan universal.
>
>Si 8 bilang kalo dia lebih menunjukkan keberuntungan daripada 7 karena
>melambangkan ketakhinggaan.
>
>Si 9 bilang kalo dia itu angka satuan terbesar di keypad, jadi dialah yang
>hebat.
>
>...Sementara itu, si angka 5 hanya senyum2 saja...
>
>Berawal dari pembicaraan tentang keunggulan masing2, mereka mulai saling
>bertengkar dan menjelek2kan...
>
>Si angka 0 diejek sebagai angka yang tidak jelas, merusak sisi kepastian dari
>operasi pembagian matematika.
>
>Si angka 1 diejek sebagai angka bernilai terkecil, jadi paling lemah.
>
>Si angka 2 diejek sebagai angka cerewet, karena anak kecil menggunakan bebek
>untuk mengingat angka 2.
>
>Si angka 3 diejek bahwa kelebihannya sebenarnya tidak ada, dia hanya mengada-ada
>soal kelebihannya, karena pembagi itu bisa berapapun.
>
>Si angka 4 dan 6 diejek bahwa kemistisan dalam sejarah mereka adalah penyebar
>ketakutan, dan itu bukanlah kelebihan.
>
>Si angka 7 diejek bahwa dia adalah lambang keserakahan.
>
>Si angka 8 diejek bahwa dia, sebagai lambang ketakhinggaan, adalah ga jelas.
>
>Si angka 9 diejek bahwa walaupun dia angka satuan terbesar, maka harus mengalah
>sama yang lain.
>
>...Sementara itu, si angka 5 senyum2 saja...
>
>Akhirnya mereka semua melihat bahwa si angka 5 tersenyum dan tertawa melihat
>pertengkaran itu, dan akhirnya mereka bertanya pada si angka 5 tentang alasan
>senyum dan tawanya itu. Si angka 5 menjawab, "Ada 2 alasan sih sebenernya yang
>bikin gw seneng," si angka 5 melanjutkan, "Yang pertama, semakin kalian bicara
>dan terus tidak mau mengalah, kata2 dan perbincangan kalian arahnya makin lucu
>dan ga jelas. Kedengeran makin maksa pula, hihihihihihi."
>
>Mereka pun menyadari bahwa semua kata2 ejekan mereka memang tidak sedikit yang
>sifatnya 'maksa'. Lalu akhirnya mereka terdiam dan beberapa di antaranya
>mengangguk. Kemudian mereka bertanya lagi pada si angka 5, "Lalu, alasan
>keduanya apa?" Dan akhirnya si angka 5 menjawab...
>
>"Aku tidak mau terjebak dalam pembicaraan tentang kelebihan2ku, sementara aku
>masih memiliki kekurangan. Akupun tidak ingin terjebak dalam pembicaraan tentang
>kekurangan2ku, sementara aku masih bisa terus berusaha dan melakukan banyak hal.
>Tapi intinya, aku senang berada di sini bersama kalian yang mengelilingiku di
>keypad hape ini. Aku ngerasa aman dan spesial aja berada di sini, di
>tengah-tengah kalian semuanya."
>
>...Lalu si angka 5 kembali tersenyum dan matanya terpejam, tidur sebentar...
>
>
>Angka-angka itu pun menyadari betapa pentingnya mereka semua untuk si angka 5.
>Kalo satu dari mereka tidak ada, si angka 5 pasti tidak akan merasa senyaman
>sekarang. Dan akhirnya mereka semua berdamai kembali, karena mereka semua sadar,
>bahwa meskipun tidak ada yang bisa lagi mereka ingat untuk dibanggakan tentang
>diri mereka sendiri, mereka masih sangat berharga untuk si angka 5.
Nasihat :
jadilah diri sendiri, tanpa harus melihat kekurangan orang, tidak harus dengan mencari cari kesalahan orang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar